Toyota adalah raksasa otomotif dunia. Namun di tengah revolusi kendaraan listrik (EV), muncul satu pertanyaan yang mulai bergema di kalangan analis dan pecinta otomotif: Akankah Toyota bernasib seperti Kodak?
Toyota: Raksasa yang Terlambat Bangun?
Seiring pertumbuhan eksplosif kendaraan listrik global, banyak perusahaan mulai mengalihkan investasi mereka ke teknologi EV. China, melalui pemain seperti BYD, NIO, dan Xpeng, semakin agresif membanjiri pasar global dengan mobil listrik berteknologi tinggi dan harga kompetitif.
Di sisi lain, Toyota terkesan lambat dan penuh keraguan. Bahkan, CEO Toyota—Akio Toyoda—dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa mobil listrik belum tentu lebih ramah lingkungan dibanding kendaraan konvensional.
“Kita harus melihat siklus hidup EV secara penuh, dari produksi baterai hingga daur ulang,” tegas Toyoda.
Pernyataan ini dianggap banyak pihak sebagai bentuk resistensi terhadap perubahan, seperti yang pernah dilakukan oleh Kodak terhadap kamera digital—dan kita tahu bagaimana kisah itu berakhir.
Kodak, Sebuah Peringatan dari Masa Lalu
Kodak adalah pionir kamera digital. Tapi mereka justru menyangkal potensinya. Takut bisnis film mereka rusak, Kodak memilih menunda inovasi yang seharusnya mereka pimpin. Hasilnya? Bangkrut di tengah revolusi yang mereka sendiri ciptakan.
Toyota, meski tidak mengabaikan EV sepenuhnya, dinilai terlalu konservatif. Fokus mereka lebih pada hybrid dan fuel cell daripada full EV.
Risiko Jika Toyota Gagal Bertransformasi
Berikut tiga risiko nyata jika Toyota tidak beradaptasi cepat:
- Kehilangan Relevansi di Pasar Bertumbuh
- Gen Z dan milenial makin memilih EV.
- Tesla dan BYD merebut pangsa pasar global, dari premium ke mid-market.
- Tekanan Regulasi dan Investor ESG
- Banyak negara akan melarang kendaraan bensin/diesel mulai 2030–2035.
- Investor mulai menilai perusahaan otomotif dari kesiapan mereka terhadap ekonomi hijau.
- Tertinggal dalam Teknologi dan Rantai Pasok
- Toyota belum mandiri dalam rantai pasok baterai (berbeda dengan BYD dan Tesla).
- Jika pengembangan solid-state battery gagal sesuai jadwal, Toyota bisa kehilangan momentum teknologi.
Namun, Toyota Bukan Kodak
Terlalu dini menyamakan Toyota dengan Kodak. Toyota memang konservatif, tapi bukan tidak bergerak. Sejak 2023, Toyota telah menggelontorkan lebih dari US$13 miliar untuk riset dan pengembangan EV. Mereka juga menjanjikan lebih dari 10 model EV baru serta produksi solid-state battery massal mulai 2027.
Toyota juga tetap kuat dalam:
- Hybrid dan hydrogen fuel cell, yang masih relevan untuk logistik dan pasar komersial.
- Diversifikasi pasar global, dengan basis produksi di lebih dari 20 negara.
- Jaringan distribusi dan loyalitas merek yang belum tertandingi.
Strategi Toyota bisa disebut “hedging strategy”—menyebar risiko, tidak hanya bertaruh pada EV.
Tantangan Nyata: Jangan Jadi Nokia
Jika Toyota gagal menjelaskan “Why Toyota EV?” di benak konsumen, mereka bisa tergelincir bukan seperti Kodak, tapi seperti Nokia—perusahaan yang dulu dominan, tapi akhirnya tergilas oleh perubahan sistem, bukan hanya produknya.
Toyota akan menghadapi masa krusial pada 2026–2028:
- Apakah mereka bisa menyamai kecepatan inovasi Tesla dan BYD?
- Apakah mereka membangun ekosistem EV lengkap: software, charging, after-sales experience?
- Apakah mereka mampu menanamkan alasan kuat bagi konsumen untuk memilih Toyota EV, bukan hanya EV?
Kodak? Belum Tentu. Tapi Nokia? Bisa Jadi.
Toyota punya sumber daya, pengalaman, dan infrastruktur untuk tetap relevan di era elektrifikasi. Namun waktu terus berjalan, dan EV bukan lagi masa depan—ia sudah jadi masa kini.
Jika tidak mempercepat transformasi dan membangun narasi kuat di era baru ini, Toyota berisiko kehilangan posisinya sebagai pemimpin—bukan karena kalah teknologi, tapi karena kalah momentum.
Jadi, akankah Toyota menjadi Kodak? Tidak.
Tapi apakah mereka bisa menjadi Nokia berikutnya? Itu sepenuhnya tergantung eksekusi mereka dalam 3 tahun ke depan.













