fbpx

Kenapa Bata Tutup?

NESTAPA BATA, TERANCAM TINGGAL CERITA

Terus merugi, produsen sepatu terkemuka, PT Sepatu Bata Tbk (BATA), baru saja mengumumkan penutupan fasilitas produksinya di Purwakarta per-30 April 2024.

Bata telah melaporkan kerugian selama empat tahun berturut-turut.

bagan rugi bersih bata 2021-2023.

Sumber: Bata

APA PENYEBAB BATA TUMBANG?

Tumbangnya Bata bisa dianalisis dari tiga sudut, yaitu; agilitas, persaingan produk yang lebih inovatif, serta strategi marketing dan bisnis yang dijalankan.

  1. Kekurangan Dalam Responsivitas

Agility; kecepatan, kelincahan, dan ketepatan dalam merespon perubahan menjadi faktor kunci survival.

Kecepatan Bata dalam mengintegrasikan teknologi baru dan inovasi dalam proses produksi maupun pengembangan produknya sepertinya tidak cukup cepat untuk memenuhi permintaan pasar yang dinamis.

Salah satunya, gagal menunggangi tren athleisure. “Athleisure” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gaya pakaian yang dirancang untuk dipakai baik dalam aktivitas olahraga maupun untuk kegiatan sehari-hari. Istilah ini merupakan gabungan dari kata “athletic” (olahraga) dan “leisure” (santai).

Bata tetap tampil kaku sementara dunia berubah ke arah berbeda. Salah satu yang sukses di athleisure adalah sepatu Hoka.

  • Pergeseran Preferensi Konsumen

Bata tidak optimal dalam menunggangi momentum seperti Aerostreet, Compass serta indie brand sepatu lokal lainnya yang meluncurkan sneaker stylish, fungsional dan memenuhi lifestyle generasi milenial. Sehingga Bata dianggap tidak lagi relevan bagi Millennial karena produk dan citra mereknya dianggap kuno dan tidak sesuai dengan gaya hidup mereka.

Berikut adalah beberapa merek sneaker lokal Indonesia yang semakin populer:

Compass Gazelle – Terkenal dengan sneaker vulkanisirnya, Compass telah menjadi salah satu merek paling ikonik di kalangan pecinta sneaker di Indonesia.

Ventela – Dikenal dengan gaya retro dan nyaman, Ventela menawarkan berbagai pilihan sneaker yang cocok untuk kegiatan sehari-hari dengan harga yang terjangkau.

Piero – Fokus pada gaya hidup muda dan dinamis, Piero telah mengembangkan berbagai model sneaker yang trendy dan colorful yang menarik minat generasi muda.

Brodo – Awalnya dikenal sebagai produsen sepatu kulit, Brodo kini juga memproduksi sneaker yang elegan dan berkualitas dengan desain yang minimalis.

League – Meski lebih dikenal dengan produk-produk sportswear, League juga memproduksi sneaker yang nyaman dan cocok untuk aktivitas olahraga maupun kasual.

Geoff Max – Terinspirasi dari budaya skate, Geoff Max menawarkan sneaker yang tidak hanya kuat dan tahan lama tapi juga memiliki estetika yang menarik.

Merek-merek ini mewakili kreativitas dan inovasi dari industri sneaker lokal Indonesia yang terus berkembang, sering kali dengan menawarkan produk yang lebih spesifik dan sesuai dengan kebutuhan serta selera lokal yang beragam.

  • Strategi Bisnis

Di era digital, keberhasilan merek sering kali bergantung pada kekuatan pemasaran digital dan kemampuan untuk terhubung dengan konsumen melalui media sosial.

Bata tampaknya juga kurang agresif dalam mengutilisasi platform digital dan media sosial untuk membangun keterikatan dengan pelanggan, yang dilakukan dengan baik oleh pesaing lokal.

Agar dapat bangkit, Bata harus bisa “STAY ADAPTIVE, STAY RELEVANT”.

Bata perlu melakukan perombakan besar-besaran untuk merejuvenasi dirinya

Jika tidak, BATA AKAN TINGGAL CERITA.

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Kritikus Makanan Profesional vs Content Creator

Next Post

WARUNG MADURA “Branding Khas Indonesia”

Related Posts
Total
0
Share