fbpx

Netflix yang Mendistrupsi Kini Terdisrupsi

Lini masa media global saat ini banyak memuat berita tentang Netflix yang memecat 2 persen dari total karyawannya yang berjumlah sekitar 10.000 karyawan. Media sosial Twitter juga diwarnai cuitan pribadi karyawan Netflix yang terkena PHK.

Sebagian besar pemangkasan karyawan ini terjadi di Amerika Serikat. Kabarnya, Netflix melakukan perubahan pada divisi animasi dan mengurangi peran kontraktor di media sosial dan saluran penerbitannya.

Efisiensi ini dilakukan Netflix setelah adanya penurunan pertumbuhan pendapatan. Pasalnya, pada bulan April lalu Netflix telah kehilangan 200.000 pelanggan (subscribers) pada kuartal pertama dan diprediksi akan kehilangan 2 juta pelanggan di kuartal kedua.

Tak hanya mengurangi jumlah karyawan, rencananya Netflix juga akan meluncurkan layanan yang lebih murah dan didukung oleh iklan untuk menambah variabel pemasukan bisnisnya.

Fenomena Netflix ini pada akhirnya memperjelas dinamika bisnis bahwa perusahaan besar yang dulu mendisrupsi sangat mungkin turut terdisrupsi juga. Meskipun fenomena ini cukup mengejutkan jika melihat ke belakang lima sampai sepuluh tahun yang lalu, Netflix adalah layanan streaming yang begitu populer dan diminati.

Ada beberapa penjelasan di balik Netflix yang terdisrupsi ini. Pertama, Netflix bukan lagi layanan streaming service ekslusif yang berarti satu dari segelintir penyedia layanan. Saat ini konsumen dihadapkan dengan begitu banyak variasi pilihan streaming service yang memberikan penawaran yang tidak kalah menarik dari Netflix.

Ketidaklincahan Netflix dalam menanggapi persaingan yang mulai menjamur, pada akhirnya membuat Netflix kehilangan penggunanya. Apabila dibandingkan dengan pesaing lainnya, tarif layanan Netflix terhitung tinggi. Biaya termurah adalah Rp 54.000 dengan resolusi terbatas pada 480p. Sementara pesaing terkuatnya seperti Disney+ menyediakan paket langganan terkecil Rp 25.000 dan akan lebih murah lagi apabila pembayaran melalui MyTelkomsel. Beberapa paket data Telkomsel juga telah mencakup akses gratis ke Disney+.

Perang di antara streaming service ini tidak dapat dielakkan telah mengguncang Netflix sebagai market leader. Dengan ini, diferensiasi layanan Netflix urgensinya tinggi untuk dilakukan, tidak hanya perihal tarif layanan tetapi yang terpenting adalah diferensiasi konten yang tersedia.

Berdasarkan pengamatan sentimen kami di media sosial, Netflix belum mampu menciptakan diferensiasi khas seperti Disney+ dengan konten originalnya, HBO dengan pilihan film dan series berkualitas tingginya, maupun VIU dengan konten yang didominasi dari Korea Selatan.

Selain itu, Netflix tidak lincah dalam memonetisasi konten yang dimilikinya di saat biaya produksi yang dikeluarkan untuk konten originalnya begitu besar, yaitu diperkirakan sebesar $55 milyar dolar. Namun tidak bisa dipungkiri, konten original Netflix berhasil sukses di pasaran seperti Money Heist, Bridgerton, dan Squid Game.

 Hanya saja Netflix terlalu bergantung pada pemasukan dari pelanggannya yang belum tentu organik. Saat ini begitu banyak orang yang menjual akun Netflix secara ilegal dengan harga murah.

Fenomena ini pada akhirnya menjadi tugas besar bagi Netflix untuk menghasilkan formula bisnis yang efisien dalam mengelola cost dan revenue bisnis mereka. Diferensiasi layanan pun menjadi penting untuk dilakukan untuk bertahan di lautan streaming service lainnya. Karena seumpama kapal Netflix tidak mampu memuaskan penumpangnya, kapal lainnya seperti VIU, HBO, Amazon Prime, Hulu, Disney, dan sebagainya siap menjadi tumpangan lain yang lebih murah atau lebih berkualitas.

Disrupsi lain pun sangat mungkin terjadi pada layanan lainnya yang tidak mampu memprediksi gelombang di tengah persaingan yang begitu kuat di lautan streaming.

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Post

#JurnalSepekan6 KKN Movie, Strategi Marketing Gacoan, dan Evangelist Docmart

Next Post

Great Brand Launch “Belajar Dari Allo Bank Festival”

Related Posts
Total
0
Share