fbpx

POTRET AMBYAR GEN Z: PENGANGGURAN TAPI BAHAGIA

Banyak berseliweran berita dimana Gen Z banyak menganggur. Tak main-main angkanya sampai 10 Juta!

Kenapa Gen Z banyak yang menganggur ? Faktor apa yang menyebabkan banyaknya pengangguran sedangkan seharusnya Indonesia memiliki bonus demografi yang cemerlang?

IDENTITAS PARADOKS / Paradoxical identity

Gen Z  itu unik karena tampil dengan wajah kontradiktif . Di media maupun dalam survei urban,  Gen Z selalu  digambarkan punya kehidupan yang asik, santai, suka berpetualang, mencoba hal baru, dan menikmati hidup.

Misalnya, suka jalan-jalan daripada menabung beli rumah;  memilih resign daripada kena isu mental health, dan lain sebagainya.  

Gen Z  juga dikenal punya perhatian pada isu lingkungan dan sosial, mereka juga  menyadari  pentingnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional.  Gen Z pada dasarnya tidak mau diatur-atur, mereka tidak ingin terjebak dalam situasi yang mengorbankan kebahagiaan dan kesehatan mental demi pekerjaan. Walaupun harus ikutan war tiket konser Coldplay atau Taylor Swift, kenapa tidak?

MENGUSUNG BEBAN TURUNAN

Di sisi lain, realitasnya  Gen Z   punya beban berat.  Pertama, mereka adalah  penanggung jawab utama (75%) bonus demografi  yang digadang-gadang  bakal melambungkan  perekonomian nasional. Sukses tidaknya Indonesia emas ada di tangan mereka.

Kedua, Gen Z adalah  bagian dari “sandwich generation”. Survei CBNC Indonesia (2021) menyebut 48,7 persen masyarakat produktif, termasuk Gen Z, adalah generasi sandwich.

Di balik cerita healing, keceriaan nonton konser, atau memburu hidden gem, Gen Z memikul tanggung jawab menghidupi diri sendiri, anak (jika sudah ada), dan orangtua dalam waktu bersamaan.

Bagi Gen Z yang tidak siap dan kuat secara finansial maupun mental, tugas tambahan sebagai “caretaker” atau “caregiver” ini akan menjadi tekanan tersendiri. Bahkan sampai-sampai lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sekali lagi lembaga pemerintah, sampai harus mengingatkan agar emak-emak, para orangtua agar tidak melahirkan “sandwich generation” dengan meminta anak menyokong perekonomian orangtua.

Tiga, saat ini masih banyak Gen Z yang menjadi pengangguran: tidak bekerja, tidak melanjutkan pendidikan atau istilahnya NEET (not in employment, education, and training/NEET) alias do nothing.

Jika diungkap lebih rinci, jumlah Gen Z yang menjadi pengangguran atau tidak memiliki kegiatan berdasarkan data BPS (2021-2022) mencapai 9.896.019 orang pada Agustus 2023. Dari jumlah itu, NEET Gen Z didominasi perempuan sebanyak 5,73 juta diikuti 4,17 juta laki-laki.

BEKERJA ITU PILIHAN

Bagi Gen Z,  paradoksal hidup/pendidikan itu hal biasa.  Gen Z lebih suka menganggur daripada mendapat pekerjaan yang tidak nyaman. Studi yang dilakukan Randstad Workmonitor pada tahun 2022 mengungkapkan temuan menarik terkait preferensi Generasi Z (Gen Z) di tempat kerja. Studi tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 41 persen responden Gen Z yang tersebar di wilayah Eropa, Asia Pasifik, dan Amerika lebih memilih menganggur dibandingkan terjebak dalam pekerjaan yang tidak membuat mereka bahagia.

Data ini menyoroti pergeseran perspektif dalam dunia kerja, khususnya bagi Gen Z. Mereka tampaknya lebih mengutamakan kepuasan kerja dibandingkan dengan jaminan gaji atau stabilitas pekerjaan. Dibesarkan di era teknologi, Gen Z terbiasa dengan fleksibilitas dan kontrol. Mereka melihat banyak peluang di luar jalur karier tradisional dan mungkin lebih berani mengambil risiko untuk mengejar pekerjaan yang sesuai dengan minat dan nilai-nilai mereka.

KEBAHAGIAAN HARUS DIKEJAR

Generasi Z dikenal dengan kesadaran mereka akan pentingnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Mereka tidak ingin terjebak dalam situasi yang mengorbankan kebahagiaan dan kesehatan mental mereka demi pekerjaan.

Kalaupun mereka proaktif dan terus meningkatkan kemampuan diri, karena mereka meyakini sesungguhnya Gen Z adalah generasi yang penuh potensi. Dengan dukungan tepat, Gen Z dapat menjadi agen perubahan positif dan berkontribusi dalam membangun masa depan yang lebih baik lagi.

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

LEADERSHIP DAN LEGITIMASI DIBALIK JAVA JAZZ FESTIVAL

Next Post

TEKNOLOGI BARU MEMBUAT KITA TAKUT? President Director PT Hakuhodo

Related Posts
Total
0
Share