fbpx

SPONTAN!!! Uhuyy! Komeng Menang

Keunggulan Alfiansyah Bustami atau akrab disapa Komeng (untuk sementara) dalam pemilu kali ini sangat menarik. Ditambah dengan pose yang spontan membuat para pemilih (voters) tertawa. Hasilnya tidak kaleng-kaleng, tembus satu juta suara untuk mewakili DPD Jawa Barat.

Ini membuktikan bahwa popularitas (sebagai komedian) memainkan peran krusial dalam pemilu karena mempengaruhi persepsi dan keputusan pemilih.

Ada beberapa faktor yang menjelaskan fenomena ini:

#1. FAMILIARITY IS KING!

Semakin sering seseorang terpapar pada stimulus tertentu (dalam hal ini, Om Komeng), semakin mereka akan menyukainya.

Hal ini menciptakan rasa familiaritas, yang dapat membangun simpati dan kepercayaan. Familiarity is king!

#2. “KOMENG ADALAH KITA”

Kita cenderung mendukung orang-orang yang kita lihat sebagai bagian dari kelompok sosial kita atau memiliki identitas yang sama dengan kita.

Komeng, dengan cara komunikasi yang “down to earth” dan khas masyarakat bawah, seringkali dianggap mewakili “orang biasa”. Komeng adalah kita.

#3. EFEK HALO

Persepsi positif tentang seseorang dalam satu area (misalnya, mereka lucu dan menghibur) mempengaruhi persepsi positif di area lain (misalnya, mereka akan menjadi pemimpin yang baik).

Jadi, popularitas dan citra positif komedian dapat mengarah pada asumsi bahwa mereka juga akan kompeten dalam politik. “Upss!!!” ????

Di beberapa kali Pilpres, kita banyak memilih caleg artis, yang dikenal meskipun belum diketahui bagaimana kinerja, character, competence, visi-misi-program.

BTW, coba lihat PAN pada edisi sekarang, yang katanya kursinya malah naik. Dengan plesetan, “Partai Artis Nasional” memang terbukti PAN adalah partai banyak artisnya. Uya Kuya salah satunya.

#4. KELELAHAN POLITIK

Dalam iklim politik, banyak pemilih merasa jenuh dengan politikus konvensional dan janji-janjinya yang sering tidak terpenuhi.

Seorang komedian yang menawarkan pendekatan segar dan tidak konvensional pun mengisi kejenuhan ini. Humor dan keautentikan mereka menjadi napas segar dan alternatif baru bagi pemilih skeptis.

Memang, benar tidaknya, kita belum tahu. Buktinya, Eko Patria tidak menawarkan apa pun selama berada di DPR. Nurul Qomar, malah memalsukan ijazah. Yang mendingan, mungkin cuma Miing yang bisa berargumen semasa di parlemen.

Komeng cerdas dalam berstrategi “zero-cost marketing”, karena tidak pernah terlihat berkampanye. Less effort. Namun dengan gaya khasnya, memasang foto anti-mainstream, sukses membuatnya paling unggul di Pemilu DPD Jabar!

Strategi Zero-cost marketing adalah cara efektif untuk mempromosikan bisnis/brand tanpa mengeluarkan uang dalam beriklan atau promosi. Dengan bermodalkan foto yang unik dan nyeleneh dari gaya caleg biasanya, Komeng berhasil membuat para pemilih “salfok” dan langsung mencoblosnya tanpa pikir panjang. Beruntungnya lagi, postingan pemilih mendadak viral sehingga pemilih lainnya yang sedang antri dan belum mencoblos merasa “FOMO” untuk memilih dan mempostingnya di social media. Hal ini membuat strategi marketingnya tumbuh secara organik.

Hasil suaranya pun tak main-main. Riuh gelak tawapun tak terbendung, bergema di setiap TPS Jawa Barat, saat panitia KPPS membuka kertas suara DPD bercobloskan Komeng dan spontan disambut dengan tagline “Uhuy.”

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

RIDING THE WAVE “PEMILU”

Next Post

YANG AYU YANG MENANG PEMILU

Related Posts
Total
0
Share