“Satu per Satu Menghilang”: Kemana Perginya Unicorn Lokal Kita?

Pernah ada masa ketika startup lokal dielu-elukan sebagai harapan baru ekonomi Indonesia. Mereka disebut-sebut sebagai Unicorn, simbol keberhasilan generasi digital Indonesia dalam menciptakan perusahaan bernilai miliaran dolar.

Nama-nama seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak bukan sekadar brand—mereka adalah representasi optimisme. Bukti bahwa anak-anak bangsa bisa menciptakan inovasi yang tak hanya bersaing di dalam negeri, tapi juga menantang dominasi global.

Tapi hari ini, kita menyaksikan satu per satu “menghilang” dari panggung nasional.

1. Traveloka Pindah ke Singapura

Traveloka resmi memindahkan kantor pusatnya ke Singapura. Perusahaan yang lahir di Indonesia itu kini memilih beroperasi dari negeri tetangga. Bukan tanpa alasan akses pendanaan, lingkungan hukum yang lebih ramah, dan posisi Singapura sebagai pusat finansial Asia Tenggara jadi daya tarik kuat.

Namun bagi kita di Indonesia, pertanyaan besarnya:

Kenapa rumah sendiri tidak cukup ramah untuk tinggal dan tumbuh?

2. Tokopedia Diambil Alih oleh TikTok

Nama Tokopedia dulu diasosiasikan dengan semangat “dari Indonesia, untuk Indonesia”. Tapi sekarang, kepemilikannya berubah. Setelah merger dengan TikTok Shop, kini sebagian besar kendali perusahaan ada di tangan entitas asing.

Apakah ini bagian dari strategi besar? Bisa jadi.

Tapi buat publik Indonesia, yang melihat Tokopedia sebagai aset nasional, ini terasa seperti kehilangan perlahan tapi nyata.

3. Gojek Terancam Dilebur dengan Grab

Gojek ikon transportasi online yang membawa jargon “karya anak bangsa” kini dikabarkan akan melebur dengan Grab, pesaing utamanya asal Singapura.

Jika itu terjadi, maka Gojek tak lagi berdiri sebagai entitas nasional. Ia menjadi bagian dari jaringan regional yang dikendalikan dari luar negeri.

Pertanyaannya:

Apakah ini hasil strategi ekspansi, atau jalan keluar dari tekanan pasar yang tak kunjung usai?

4. Bukalapak Mundur dari E-commerce

Bukalapak memutuskan untuk “putar haluan”. Fokus ke B2B dan warung digital, meninggalkan pertarungan e-commerce yang membakar uang. Langkah ini rasional secara bisnis, tapi tetap memunculkan tanda tanya besar:

Kenapa begitu banyak startup kita tak mampu bertahan di medan kompetisi terbuka?

Refleksi: Apakah Kita Hanya Tempat ‘Membesarkan’, Bukan Mempertahankan?

Fakta bahwa startup kita bisa tumbuh besar patut diapresiasi. Kita punya talenta, ide, dan pasar. Tapi mengapa begitu sulit mempertahankan kendali dan independensi perusahaan buatan lokal? apakah masalahnya ada pada:

  • Akses pendanaan yang masih berat sebelah?
  • Regulasi yang tidak cukup adaptif?
  • Ekosistem yang terlalu terpaku pada valuasi, bukan profitabilitas dan keberlanjutan?

Atau, barangkali kita terlalu cepat bangga saat startup jadi unicorn, tanpa menyadari bahwa tantangan sebenarnya justru dimulai setelah itu.

Kita Jago Membangun, Tapi Belum Jago Memelihara

Indonesia tidak kekurangan inovator. Kita punya banyak talenta hebat.

Tapi yang kita butuhkan bukan hanya unicorn, tapi institusi digital lokal yang kuat, tahan banting, dan mandiri secara jangka panjang.

Kita tak boleh puas hanya jadi ladang tumbuh startup, yang setelah besar lalu dijual ke luar negeri. Sudah waktunya ekonomi digital kita berdaulat, bukan sekadar jadi tempat numpang tumbuh.

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *